Suatu sore, senin 12 Sya’ban 1406 H. bertepatan dengan 20 April 1986 M.
sepulang dari rumah kediaman syeikh Jalaluddien Haqqoni, k
...
utulis kata-kata ini :
Segala puji bagi Allah, hanya kepada-Nya kita memuji, memohong
pertolongan, memohon ampunan, serta memohon perlindungan dari kejahatan
jiwa kita dan keburukan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang diberi
peunjuk oleh Allah, maka tiada seorang pun yang dapat menyesatkannya.
Dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka tiada seoarang pun jua yang
bisa memberi petunjuk kepadanya.
Aku bersaksi bahwa tiada
Ilah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa
Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Ya Allah ! Tiada
kemudahan selain yang telah Engkau jadikan mudah, dan jika Engkau
berkehendak, niscaya kesedihan akan Engkau jadikan kemudahan.
Kecintaan kepada jihad benar-benar telah melekat pada diri dan hidupku, jiwa dan perasaanku, serta hati dan inderaku.
Ayat-ayat muhkamat dalam surat at taubah yang menerangkan kewajiban
jihad dalam Islam, benar-benar telah memeras kesedihan hatiku untuk
mencabik-cabik jiwaku dengan duka, sedangkan aku sadar akan
kekuranganku dan kekurangan kaum muslimin terhadap kewajiban jihad di
jalah Allah ini.
Ayat tentang kewajiban mengangkat pedang
telah memansukh (menghapus) lebih kurang 120 atau 140 ayat sebelumnya
yang berbicara tentang jihad. Ini benar-benar merupakan bantahan yang
telak dan jawaban yang tuntas bagi orang yang mau bermain-main dengan
ayat-ayat Allah yang berkenaan dengan perang di jalan Allah. Juga buat
orang yang begitu berani mentakwilkan ayat-ayat muhkamat atau berani
membelokkan arti dhohir yang qoth’ie baik maksud maupun keabsahannya.
Diantara ayat-ayat yang berkaitan dengan kewajiban melaksanakan jihad tersebut adalah :
وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَآفَّةً وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
“ ….. dan perangilah musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka
memerangi semuanya; dan ketahuilah bahwasannya Allah beserta
orang-orang yang bertaqwa “. (QS. 9:36).
فَإِذَا
انْسَلَخَ اْلأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ
وَجَدْتُمُوْهُمْ وَخُذُوْهُمْ وَاحْصُرُوْهُمْ وَاقْعُدُوْا لَهُمْ كُلَّ
مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوْا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ
فَخَلُّوْا سَبِيْلَهُمْ إِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ
“
Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang
musyirikin di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka.
Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka
bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah
kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang “. (QS. 9:5).
Mencari-cari
alasan untuk tidak berjihad dengan alasan yang bermacam-macam akan
mengotori jiwa. Maka merelakan diri untuk tidak berjihad fie sabilillah
merupakan sendau gurau dan main-main bahkan mempermainkan agama Allah.
Padahal kita diperintahkan berpaling mengjauhi orang-orang seperti
mereka, sesuai firman Allah :
وَذَرِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَعِبًا وَلَهْوًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا
“ Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikabn agama mereka sebagai
main main dan sendau gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan
dunia “. ( QS. Al An’am : 70).
Sesungguhnya mencari-cari
alasan dengan angan-angan tanpa melakukan i’dad adalah kondisi jiwa
yang kerdil yang tiada punya semangat merengkuh puncak gunung.
“ Jika semua itu memang jiwa yang besar bersusah payahlah badan karena cita-citanya “.
Duduk-duduk berdampingan di masjidil Harom dan memakmurkannya dengan
berbagai amal ibadah tidak mungkin dapat dibandingkan dengan jihad di
jalan Allah. Dalam hadits shohih muslim diriwayatkan, ketika para
shahabat berselisih pendapat tentang amal yang paling utama sesudah
iman, “ Memakmurkan Masjidil Harom (adalah amalan yang paling utama)
“.Yang lain berkata, “ Bukan ! Tapi (amalan yang paling utama adalah)
memberi minuman orang-orang yang beribadah haji “. Yang lain lagi
berkata, “ Bukan ! Tapi jihad di jalan Allah “.
Dengan adanya peristiwa itu maka turunlah ayat 19 hingga 22 surat At Taubah.
أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَآجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
كَمَنْ ءَامَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ
اللهِ لاَيَسْتَوُونَ عِندَ اللهِ وَاللهُ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ
الظَّالِمِينَ {19} الَّذِينَ ءَامَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي
سَبِيلِ اللهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ
اللهِ وَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْفَآئِزُونَ {20} يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُم
بِرَحْمَةٍ مِّنْهُ وَرِضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَّهُمْ فِيهَا نَعِيمُُ
مُّقِيمٌ {21} خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا إِنَّ اللهَ عِندَهُ أَجْرٌ
عَظِيمُُ {22}
“ Apakah (orang-orang) yang memberi minuman
kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil haram,
kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari
kemudian serta berjihad di jalan Allah. Mereka tidak sama di sisi
Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zhalim.
Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah
dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di
sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan. Rabb
mereka mengembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya,
keridhoan dan jannah, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang
kekal. Mereka kekal di dalanya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi
Allah-lah pahala yang besar “. (QS. 9:19-22)
Jadi, jelaslah
bahwa jihad di jalan Allah itu lebih besar derajat dan pahalanya
dibanding memakmurkan Masjidil Harom, khususnya kalau dilihat dari
sebab turunnya ayat, yaitu adanya perselisihan pendapat di antara para
shahabat seputar masalah ini.
Asbabun Nuzul (sebab turunnya)
ayat ini tidak boleh dikhususkan untuk masalah lain, atau dita’wilkan
(dipahami dengan arti jihad yang lain, umpamanya jihad melawan hawa
nafsu – pent.) sebab di dalam nash tersebut sudah terdapat makna yang
qoth’i.
Dan semoga Alloh merahmati Abdulloh ibnul Mubarok.
Suatu ketika beliau berkirim surat kepada Al Fudzail bin ‘Iyadl, ia
berkata :
“ Wahai orang yang beribadah di Masjid Haromain
Seandainya engaku mengerti keadaan kami tentu engkau tahu bahwa Engkau
bermain-main dengan ibadah itu Kalau orang pipinya dilinangi genang air
mata Maka pangkal leher kami dilumuri darah yag tertumpah “
Tahukah anda pendapat seorang yang ahli fiqih, ahli hadits dan
sekaligus mujahid ini (yaitu Abdullah bin Mubarok) tentang orang yang
duduk-duduk bersanding di Masjid Harom, beribadah di dalamnya, sedang
saat-saat yang sama tempat-tempat suci Islam dihancurkan, darah kaum
muslimin ditumpahkan, kehormatan mereka diinjak-injak dan dihinakan
serta Agama Allah dicabut sampai akar-akarnya ! Saya katakan bahwa
beliau berpendapat, “…. Itu adalah bermain-main dengan Agama Allah …..
“.
Benar, membiarkan kaum mulimin dibantai, dibunuh dengan
semena-mena – disuatu negeri nun jauh di sana – sedangkan kita hanya
membaca Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un dan Laa Haula Wa Laa
Quwwata Illa Billahil ‘Aliyyil ‘Adzim sambil membuka telapak tangan
kita dari jarak jauh tanpa terdetik di hati kita untuk tampil membela
mereka, sungguh ini adalah bermain-main dengan agama Allah serta
mengumpatkan kedustaan dan kebekuan hati serta menipu diri sendiri.
“ Bagaimana tetap tinggal diam, dan bagaimana hati seorang muslim tetap
tenang sedang kaum muslimat bersama musuh yang kejam “.
Saya
berpendapat – seperti yang telah saya tuliskan dalam kitab Ad Difa’ ‘An
Arodhil Muslimin ahammu Furudhul a’yan (Terj. Membela Bumi Kaum
Muslimin Adalah Fardhu Ain yang Paling Utama)- Dan sebelum saya
berpendapat seperti ini Ibnu Taimiyah telah berpendapat seperti ini.
Beliau mengatakan bahwa jika musuh menyerang dan membinasakan seluruh
urusan Dien dan dunia, maka tidak ada saat itu yang paling wajib
setelah iman selain melawan mereka.
Saya berpendapat –
sekarang ini – tidak ada bedanya antara orang yang meninggalkan jihad
dengan orang yang meninggalkan sholat, puasa dan zakat ?
Saya berpendapat semua penghuni dunia memikul tanggung jawab di hadapan Allah kemudia dihadapan sejarah.
Saya berpendapat tidak ada alasan yang bisa diterima untuk meninggalkan
jihad, baik alasan berda’wah, sibuk mengarang, sibuk mendidik dan
sebagainya.
Saya berpendapat di atas leher setiap muslim di
dunia ini sekarang ini terikat beban dan tanggung jawab disebabkan
mereka meninggalkan jihad (perang di jalan Alloh). Dan semua orang
Islam telah memikul dosa karena enggan memanggul senjata.
Jadi, setiap orang yang berjumpa dengan Alloh – selain ulid dzhoror –
sedangkan tidak ada senjata ditangannya, ia berjumpa Alloh dengan
menanggung dosa karena dia meninggalkan perang. Karena hukum perang
sekarang ini adalah fardhu ‘ain bagi setiap muslim di muka bumi –
selain orang-orang yang mempunyai udzur- . Sedangkan orang yang
meninggalkan kewajiban itu berdosa karena kewajiban itu definisinya
adalah perbuatan yang pelakunya mendapat pahala dan orang yang
meninggalkannya akan dihisab atau berdosa.
Sesungguhnya saya
berpendapat – wallohu a’lam – sesungguhnya orang yang dimaafkan Alloh
dalam meninggalkan jihad adalah orang buta, orang pincang, orang sakit
dan orang-orang lemah dari kalangan laki-laki, perempuan dan anak-anak
yang tidak bisa berupaya dan tidak tahu jalan. Maksudnya tidak bisa
berpindah ke medan perang dan tidak tahu jalan menuju ke sana. Maka
berdosalah orang-orang yang meninggalkan tugas perang, baik di
Palestina atau Afghanistan atau di belahan bumi manapun yang diinjak
dan dinodai oleh orang-orang kafir dengan najisnya.
Dan saya
berpendapat pada hari ini tidak diperlukan lagi ijin kepada siapapun
untuk berperang atau berjihad di jalan Allah tidak perlu ijin orang tua
bagi anaknya, suami bagi istrinya, atau orang yang menghutangi bagi
orang yang berhutang, guru bagi muridnya, serta ijin pemimpin bagi yang
dipimpinnya.
Ini adalah ijma’ seluruh ulama di segala zaman.
Bahwa dalam keadaan seperti ini seorang anak pergi berperang tanpa ijin
orang tuanya dan seorang perempuan pergi berperang tanpa ijin suaminya,
barangsiapa berusaha mencari-cari kesalahan dalam permasalahan ini
benar-benar ia telah melampaui batas dan berbuat zalim, serta mengikuti
hawa nafsu tanpa berdasarkan petunjuk dari Allah.
Masalah
ini sudah cukup gamblang dan tegas yang di dalamnya tiada lagi
kekaburan atau kerancuan. Karena itu tidak ada peluang bagi siapa pun
untuk membelokkan, menyelewengkan, atau bermain-main dengannya dan
menta’wilkannya.
Sesungguhnya amiirul mu’minin tidak dimintai ijin untuk berjihad dalam tiga keadaan :
1. Bila ia menihilkan jihad
2. Bila ia menutup perijinan untuk berjihad
3. Bila sebelumnya kita telah ketahui bahwa ia akan menolak permohonan ijin.
Saya berpendapat bahwa kaum muslimin pada hari ini bertanggung jawab
atas setiap kehormatan yang dinodai di Afghanstan dan sertiap darah
yang tercucur di sana. Sesungguhnya – wallohu a’lam – mereka semuanya
berperan dalam menumpahkan darah di Afghanistan sebab mereka kurang
memperhatikan, sedangkan kaum muslimin mampu mengirim senjata untuk
membela mereka, atau dokter untuk mengobati mereka, atau harta untuk
membeli makanan atau buldoser untuk menggalikan parit perlindungan bagi
mereka.
Dalam Hasyiyah Ad Dasyuki As Syarkhil Kabir halaman 111 – 112 juz II diterangkan :
“ Orang yang memiliki kelebihan makanan dan melihat seseorang kelaparan
(tapi) ditinggalakan sampai mati, kalau orang yag memiliki makanan itu
mengira orang yang kelaparan itu tidak mati, maka ia harus mambayar
diyatnya (denda) dari harta kerabatnya. Dan kalau sengaja membiarkan
mati maka ada dua riwayat dalam madzhab (pertama) dia harus membayar
diyat dari hartanya sendiri, dan (pendapat kedua) dia harus diqishos
mati, karena dia (hakikatnya) adalah pembunuh “.
Maka, hisab
dan siksa macam apakah yang sedang dinanti oleh orang-orang yang
memiliki kekayaan dan harta benda, lalu ia salurkan harta tersebut
untuk bersenang-senang dan membelanjakan sia-sia hanya demi menuruti
hawa nafsu dan kemewahan itu ?
WAHAI KAUM MUSLIMIN
Hidup kalian adalah jihad, kemuliaan kalian adalah jihad, serta wujud dan eksistensi kalian terikat erat dengan jihad.
WAHAI PARA JURU DAKWAH !
Tiada arti dan nilai hidup kalian jika kalian tidak mengayunkan pedang
untuk membabat kesuburan para thoghut, kaum kuffar dan para penindas.
Sesungguhnya orang-orang yang mengira bahwa Islam ini bisa menang tanpa
jihad dan perang, tanpa pertumpahan darah dan serpihan-serpihan daging
mereka, sebenarnya mereka itu dalam kekaburan dan tidak mengerti tabiat
naluri Dinul Islam.
Wibawa para juru dakwah, kekuatan dakwah dan kejayaan kaum muslimin tidak bakal terwujud tanpa perang.
Rosulullah shollAllahu ‘alaihi wasallam bersabda :
وَلَيَنْزِعَنَّ اللهُ مِنْ قُلُوبِ أَعْدَاءِكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ
وَلَيَقْذِفَنَّ اللهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ قَالُوا وَمَا الْوَهْنُ
يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ : حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ.
وَفِي رِوَايَةٍ كَرَاهِيَةُ الْقِتَالِ
“ Dan benar-benar
Allah akan mencabut rasa takut dari musuh-musuh kalian, dan melemparkan
penyakit wahn ke dalam hati kalian ! para shahabat bertanya : Apakah
penyakit wahn itu ya Rosul Allah ! beliau menjawab : “ Cinta dunia dan
benci dengan kematian “. Dalam riwayat lain, “ benci dengan peperangan
“.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
فَقَاتِلْ
فِيْ سَبِيْلِ اللهِ لاَ تُكَلَّفُ إِلاَّ نَفْسَكَ وَحَرِّضِ
الْمُؤْمِنِيْنَ عَسَى اللهُ أَنْ يَكُفَّ بَأْسَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا
وَاللهُ أَشَدُّ بَأْسًا وَاَشَدُّ تَنْكِيْلاً
“ Maka
berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan
dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk
berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir
itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(Nya) “. (QS.
4:84).
Kemusyrikanpun akan merajalela dan berjaya jika tidak ada perang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَتَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ للهِ
“ Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah ”. (QS. Al Anfal : 39).
Dan yang dimaksud dengan fitnah di sini adalah kemusyrikan.
Sesungguhnya jihad merupakan jaminan satu-satunya bagi kebaikan di permukaan bumi ini.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَلَوْلاَ دَفْعُ اللهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ اْلأَرْضُ
“ Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan
sebagaian yang lain, pasti rusaklah bumi ini ”. (QS. Al Baqoroh : 251).
Sesungguhnya jihad juga merupakan jaminan satu-atunya guna memelihara syi’ar-syi’ar dan tempat-tempat peribadahan :
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَلَوْلاَ دَفْعُ اللهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ
صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدَ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللهِ
كَثِيرًا
“ Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan)
sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan
biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan
masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah ”. (QS. Al
Haj : 40).
WAHAI PARA JURU DAKWAH ISLAM !
Gandrungi dan kejarlah kematian, nisacaya kalian akan dikaruniai
kehidupan. Janganlah terpedaya oleh angan-angan, dan janganlah tertipu
oleh apapun dalam mentaati Alloh.
Janganlah kalian sampai
tertipu dengan kitab-kitab yang kalian baca, dan dengan ibadah-ibadah
sunnah yang kalian tekuni. Kesibukan kalian dalam urusan-urusan kecil
yang membuai hati jangan sampai melupakan kalian dari masalah-masalah
yang besar dan agung,
وتودون أن غير ذات الشوكة تكون لكم...
…dan kalian menginginkan bahwa yang tanpa senjatalah yang akan kalian hadapi…
Janganlah kalian mentaati siapapun dalam urusan jihad. Tidak perlu ijin
dari komandan untuk pergi berjihad. Sesungguhnya jihad itu adalah
penegak dakwah kalian dan benteng agama kalian serta perisai
syari’at-syari’at kalian.
WAHAI ULAMA ISLAM !
Tampillah memimpin generasi yang sedang kembali kepada jalan Robnya
ini, dan janganlah takut menegakkan Dien, janganlah gandrung dan cinta
kepada dunia serta jagalah diri kalian, jangan sampai mencicipi
hidangan-hidangan thoghut, karena hal itu akan menjadikan hati kalian
gelap dan mati, akan menjadi dinding pemisah bagi kalian dari generasi
ini, serta penutup antara hati kalian dan hati mereka.
WAHAI KAUM MUSLIMIN !
Telah lama tidur kalian. Burung-burung pipit telah menjelma menjadi
burung-burung Elang di bumi kalian. Alangkah indahnya makna bait-bait
puisi ini :
“ Kian panjang tidur terlena dalam kehinaan dimanakah
gerangan barisan singa itu sementara burung-burung pipit telah menjelma
menjadi Elang sedangkan kita terbelenggu bagai budak belenggu budak itu
berupa buhul nestapa bukannya rantai dari besi lalu, kapan kita
berontak belenggu itu ? kapan kita berontak belenggu itu?!
WAHAI KAUM WANITA !
Jagalah diri kalian dari kemewahan, karena kemewahan adalah musuh
jihad. Kemewahan mengkerdilkan jiwa manusia. Hati-hatilah terhadap
keadaan yang berlebih-lebihan. Cukuplah dengan yang perlu-perlu saja.
Didiklah anak-anak kalian dengan kesederhanaan, dengan sifat kejantanan
dan kepahlawanan serta kemauan untuk berjihad. Jadikanlah rumah kalain
sebagai kandang singa, bukannya kandang ayam yang setelah gemuk
dijadikan sembelihan penguasa durhaka. Tanamkanlah dalam jiwa
putra-putri kalian kecintaan berjihad, mencintai lapangan pacuan kuda
dan medan-medan pertempuran.
Hiduplah dengan selalu
menyertai segala kesulitan kaum muslimin. Usahakan dalam satu minggu
sekali – minimal – untuk hidup seperti hidupnya kaum muhajirin dan
mujahidin, yaitu hanya dengan sepotong roti kering dengan lauk yang
tidak berlebihan dan beberapa teguk air teh.
WAHAI PARA REMAJA !
Tumbuhlah kalian dalam desingan peluru-peluru, dentuman meriam, raungan
kapal terbang dan deru suara tank. Jauhilah kenikmatan hidup, dendangan
musik dan kasur-kasur yang empuk.
ADAPUN ENGKAU WAHAI ISTRIKU !
Sebenarnya banyak hal yang ingin aku sampaikan kepadamu wahai ummu
Muhammad. Semoga Allah melimpahkan balasan pahala kepadamu karena
pengorbananmu kepadaku dan kepada kaum muslimin, juga karena dukunganmu
kepadaku. Eangkau telah lama bersabar bersamaku menempuh jalan ini, dan
engkau telah merasakan pahit dan manisnya hidup bersamaku. Dan engkau
adalah sebaik-baik penolong bagiku dalam menempuh perjalanan yang penuh
berkah ini, dan untuk berjuang di medan jihad. Engkau telah
kutinggalkan di rumah sejak tahun 1969 M., pada saat itu kita baru
mempunyai dua anak kecil perempun dan seorang bayi laki-laki. Engkau
hidup di sebuah kamar yang terbuat dari tanah liat yang tidak ada dapur
dan perabotnya. Dan kutinggalkan engkau dirumah ketika hamil tua dan
bertambah anggota keluarga, anak-anak sudah mulai besar, dan semakin
banyak kenalan kita dan semakin bertambah pula tamu-tamu kita. Engkau
terima semua itu hanya karena Alloh kemudian karena aku. Maka semoga
Alloh membalas jasamu terhadap diriku dan terjadap kaum muslimin dengan
sebaik-baik balasan. Kalau bukan karena Allah, kemudian karena
kesabaranmu atas kepergianku yang sekian lama dari rumah, tidaklah aku
mampu memikul beban begitu berat sendirian.
Benar-banar aku
telah mengerti bahwa engkau seorang wanita zahidah (ahli zuhud), bagimu
materi dunia ini tidak ada nilainya dalam hidupmu. Engakaupun tidak
pernah mengeluh pada hari-hari yang berat karena sedikitnya uluran
tangan pertolongan. Dan engkau pun tidak pernah bermewah-mewah juga
tidak membanggakan diri pada hari-hari Allah membukakan sedikit pintu
kenikmatan dunia. Dinia ini tidak pernah tinggal dalam hatimu, padahal
sebagian besar kesempatan ada di tanganmu.
Sesungguhnya
kehidupan jihad adalah kehidupan yang paling lezat, serta menahan sabar
atas kesempitan lebih indah daripada bergelimang diantara
bermacam-macam kenikmatan dan tumpukan kemewahan.
Berpegang
teguhlah pada sifat zuhud, niscaya Allah akan mencintaimu. janganlah
mencintai apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia mencintaimu.
Al Qur’an adalah kenikmatan hiburan dalam kehidupan. Bangun sholat
malam (tahajud), puasa sunnah, serta beristighfar pada waktu-waktu
sahur (sepertiga malam terakhir) menjadikan hati lembut, beribadah
menjadi manis. Bersahabat dengan orang-orang yang baik, tidak
berlebih-lebihan di dunia, jauh dari glamour dan orang-orang yang sibuk
dengan dunia semua itu akan menjadikan hati tenang..
Harapan
kita hanya kepada Allah, mudah-mudahan kita dikumpulkan di Jannah
Firdaus, sebagaimana Dia telah mengumpulkan kita di dunia.
ADAPUN KALIAN WAHAI ANAK-ANAKKU !
Sungguh kalian hanya mendapatkann sedikit saja dari waktuku, juga hanya sedikit pendidikan dariku.
Ya ! aku sibuk dan tidak sempat mengurus kalian. Tapi apakah yang harus
aku perbuat, sedangkan bencana yang menimpa kaum muslimin seakan
membuat wanita yang menyusui tak ingat akan nasib susuannya. Dan
malapetaka yang menyiksa umat Islam begitu dahsyat seolah-olah jambul
anak-anak muda beruban karenanya.
Demi Allah, tak kuat aku
hidup bersama kalian sebagaimana induk ayam dalam sangkarnya hidup
bersama anak-anaknya. Tak sanggup aku hidup dengan hati dingin
sedangkan api ujian membakar hati kaum muslimin tak rela aku tinggal
besama kalian sepanjang waktu sedangkan derita dan kaum muslimin
merobek-robek setiap orang yang memiliki hati nurani atau masih tersisa
akalnya. Tidaklah kesatria hidup diantara kalian sambil bergelimang
dengan kenikmatan yang sebagian dihamparkan untukkku dan sebagian lagi
diangkat, diantara tumpukan daging dan beraneka ragam jajanan.
Demi Allah, dalam hidupku aku telah membenci kemewahan baik berupa
pakaian, makanan, ataupun tempat tinggal. Aku telah berusaha semampuku
untuk mengangkat kalian kepada tingkatan para zahidin (ahli zuhud) dan
menjauhkan kalian dari gelimangan orang-orang yang hidup dalam
kemewahan.
Aku wasiatkan kepada kalian berpeganglah pada
aqidah kaum salaf, yaitu aqidah ahlus sunnah wal jama’ah, dan jauhilah
sifat berlebih-lebihan. Aku wasiatkan kepada kalian, untuk membaca dan
menghafalkan Al-Qur’an. Jagalah juga lidah kalian. Begitu juga sholat
malam, berpuasa, bergaul dengan teman-teman yang baik, dan bergabunglah
bersama gerakan Islam. Tapi hendaklah kalian ketahui bahwa pemimpin
gerakan itu tidak berhak melarang kalian berjihad, atau mengasikkan
kalian dalam bidang dakwah hingga melalaikan dari medan-medan kejantaan
dan medan-medan perang. Kalian tidak perlu minta ijin kepada seorang
pun untuk berjihad di jalan Allah.
Belajarlah bagaimana menghentakkan senjata dan mengendarai kendaraan perang. Tapi, menembak lebih aku sukai.
Aku wasiatkan kepada kalian, wahai anak-anakku agar kalian taat kepada
ibumu, menghormati kakak-kakak perempuanmu (ummu Al Hasan dan ummu
Yahya). Hendaklah kalian menekuni ilmu syari’ah yang bermanfaat.
Hendaklah kalian taat kepada kakak laki-lakimu (Muhammad).
Saya nasehatkan kalian untuk saling mencintai dan berbakti kepada kakek
dan nenek kalian, hormatilah keduanya. Dan berbaktilah kepada kedua
bibimu (ummu faiz dan ummu Muhammad). Karena kedua beliau itu memiliki
jasa dan keutamaan besar kepadaku sesudah Allah.
Sambunglah
kekerabatan kita dan berbuat baklah kepada keluarga dan tunaikanlah hak
persahabatan kita kepada orang yang bersahabat dengan kita
ADAPUN KEPADA MAKTAB AL-KHIDMAT
(Pada aslinya tertulis: “Saya wasiyatkan agar yang menjadi penanggung
jawab setelahku adalah Abu Hudzaifah yang telah menghabiskan waktu
mudanya untuk maktab ini. Khususnya dia telah menyumbangkan hartanya
untuk para mujahidin. [Pada teks aslinya tidak tertulis “Wakilnya”
adalah] Abu Sayyaf Fat-hi dan dibantu oleh Abu Hamzah dan Abu Hajir.
Namun Syaikh Abdulloh Azzam mencoret tulisan ini. Lihat aslinya)
Dan kepada ikhwah sekalian, hendaknya mereka menjaga orang-orang yang
menjadi pendahulu dalam berjihad ini, dan setiap mujahid mendapat
keutamaan dengan lebih cepatnya dia berada dalam medan perang ini. Dan
kepada para ikhwah hendaknya mereka menghormati para pendahulu mereka
dalam jihad ini, khususnya (pada teks aslinya tertulis: Abu Hudzifah,
namun Syaikh Abdulloh Azzam mencoret dengan penanya. Lihat aslinya)
Usamah, Abul Hasan Al-Madani, Nurud Din, Abul Hasan Al-Maqdisi, Abu
Sayyaf Dan Abu Burhan. Adapun Abu Mazin sungguh saya mengetahuinya
(dalam teks aslinya tertulis; Wallohi [demi Alloh] namun Syaikh
Abdulloh Azzam mencoretnya dengan penanya) dia adalah orang yang lebih
bersih dari air yang turun dari langit. Dia ahli puasa, sholat malam
dan bersemangat dalam berjihad. Alloh menggiringnya untuk jihad maka
dia membantu dengan diam-diam. (dalam teks aslinya tertulis: “meskipun
orang-orang mempeributkannya dan kalian jangan terpedaya dengan mereka”
namun Syaikh Abdulloh Azzam mencoretnya dengan penanya. Lihat aslinya)
dan dia adalah salah satu penopang jihad.
Tundukkanlah
pandangan kalian dari ketergelinciran-ketergelinciran mereka dan
jagalah posisi mereka. Dan jangan kalian lupakan keutamaan Abul Hasan
Al-Madani dan perannnya dalam membantu jihad. Terimalah nasehat-nasehat
Abu Hajir. Dan hendaknya dia yang mengimami sholat kalian karena dia
itu lembut dan khusyu’ (pada teks aslinya tertulis; “begitu pula
saudara Abul Barro’ “, namun Syaikh Abdulloh Azzam mencoretnya dengan
penanya. Lihat aslinya)
Dan banyaklah mendo’akan (pada teks
aslinya tertulis: “dan banyaklah mendo’akan orang-orang yang menanggung
maktab ini dengan harta pribadinya” namun tulisan ini ditulis dalam
kurung oleh Syaikh Abdulloh Azzam dan kami tidak tahu apakah beliau
bermaksud mencoretnya atau membiarkannya. Lihat teks aslinya. Dan yang
benar saudara Usamah menanggung maktab ini pada awal dimulainya kerja
maktab al-khidmat ini sampai pada tahun 1986 M kemudian setelah itu
beliau berhalangan untuk membantu) orang yang menanggung maktab ini
dengan menggunakan uang pribadinya yaitu saudara Abu ‘Abdulloh Usamah
bin Muhammad bin Ladin. Saya berdo’ah semoga Alloh memberkahi keliarga
dan hartanya. Dan kami mengharap kepada Alloh untuk memperbanyak
orang-orang semacam dia. Demi Alloh saya belum mendapatkan orang yang
semacam dia di dunia Islam. Oleh karena itu kami berharap kepada Alloh
untuk menjaga agamanya dan hartanya. (dalam teks aslinya tulisan:
“semoga Alloh memberkati …. .sampai perkataannya yang berbunyi ; tiang
perkemahan maktab” kalimat ini digarisbawahi dan kami tidak tahu apa
maksud syaikh Abdulloh Azzam. Apakah beliau bermaksud mencoretnya atau
tidak. Namun kami menguatkan bahwa beliau tidak bermaksud mencoretnya.
Lihat aslinya) dqn semoga Alloh memberkati kehidupannya. Dan kalian
jangan lupa bahwa Abu Hudzaifah telah benyak menanggung proyek-proyek
maktab ini dengan uang pribadinya. (dalam teks aslinya kata-kata
“dengan uang pribadinya” ditulis dalam kurung oleh syaikh Abdulloh
Azzam, maka kami kuatkan bahwa beliau tidak bermaksud membuangnya.
Lihat aslinya) maka banyaklah mendo’akannya, karena dia merupakan tiang
perkemahan maktab.
ADAPUN KEPADA PERHIMPUNAN JIHAD !
Hendaklah kalian banyak memperhatikan Sayyaf, Hikmatyar, Robbani,
Kholis. Karena kita mengharapkan mereka (dalam teks aslinya tertulis
“keduanya”) akan melanjutkan perjalanan jihad dan memelihara agar tidak
menyimpang.
Dan janganlah kalian melupakan komandan di dalam
negeri, khususnya Jalaluddien, Ahmad Syah Mas’ud, Ir. Basyir,
Shofiyullah ‘Afdholi, Maulawi Arsalan,(dalam teks aslinya tertulis:
“dan perbaikilah hubungan kalian dengan Nasrulloh Manshur” namun
dicoret oleh Syaikh Abdulloh Azzam. Lihat aslinya) Farid, Muhammad
‘Alam dan Sir Alam (Di Bagman), serta sayid Muhammad Hanif (di Logar).
سُبْحَانَكَ اَللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
" " Mahasuci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa
tiada Ilah selain Engkau, aku mohom ampun dan bertaubat kepada-Mu “.
Hari Selasa 13 Sya’ban 1406 H. bertepatan dengan 22/4/1986 M