Minggu, 28 April 2013

Metode Menghafal Al Qur'an

Written By Admin on Selasa, 28 Agustus 2012 | 05.02


Pendahuluan


Ada 3 prinsip (Three P) yang harus difungsikan oleh ikhwan/akhwat kapan dan dimana saja berada sebagai sarana pendukung keberhasilan dalam menghafal al qur’an. 3P (Three P) tersebut adalah:


1. Persiapan (Isti’dad)


Kewajiban utama penghafal al-qur’an adalah ia harus menghafalkan setiap harinya minimal satu halaman dengan tepat dan benar dengan memilih waktu yang tepat untuk menghafal seperti:

a. Sebelum tidur malam lakukan persiapan terlebih dahulu dengan membaca dan menghafal satu halaman secara grambyangan (jangan langsung dihafal secara mendalam).

b. Setelah bangun tidur hafalkan satu halaman tersebut dengan hafalan yang mendalam dengan tenang lagi konsentrasi

c. Ulangi terus hafalan tersebut (satu halaman) sampai benar-benar hafal diluar kepala


2. Pengesahan (Tashih/setor)


Setelah dilakukan persiapan secara matang dengan selalu mengingat-ingat satu halaman tersebut, berikutnya tashihkan (setorkan) hafalan antum kepada ustad/ustadzah. Setiap kesalahan yang telah ditunjukkan oleh ustad, hendaknya penghafal melakukan hal-hal berikut:

a. Memberi tanda kesalahan dengan mencatatnya (dibawah atau diatas huruf yang lupa)

b. Mengulang kesalahan sampai dianggap benar uoleh ustad.

c. Bersabar untuk tidak menambah materi dan hafalan baru kecuali materi dan hafalan lama benar-benar sudah dikuasai dan disahkan


3. Pengulangan (Muroja’ah/Penjagaan)


Setelah setor jangan meninggalkan tempat (majlis) untuk pulang sebelum hafalan yang telah disetorkan diulang beberapa kali terlebih dahulu (sesuai dengan anjuran ustad/ustadzah) sampai ustad benar-benar mengijinkannya


II. Syarat Utama Untuk Memudahkan Hafalan



1. Beriman dan bertaqwa kepada Allah.

2. Berniat mendekatkan diri kepada Allah dengan menjadi hamba-hamba pilihanNya yang menjaga al-qur’an.

3. Istiqomah sampai ajal musamma.

4. Menguasai bacaan al-qur’an dengan benar (tajwid dan makharij al huruf).

5. Adanya seorang pembimbing dari ustad/ustadzah (al-hafidz/al-hafidzah).

6. Minimal sudah pernah khatam al-qur’an 20 kali (dengan membaca setiap ayat 5 kali).

7. Gunakan satu jenis mushaf al-qur’an (al-qur’an pojok).

8. Menggunakan pensil/bolpen/stabilo sebagai pembantu.

9. Memahami ayat yang akan dihafal


III. Macam-macam Metode Menghafal



A. Sistem Fardhi


Ikuti langkah ini dengan tartib (urut):

1. Tenang dan tersenyumlah, jangan tegang.

2. Bacalah ayat yang akan dihafal hingga terbayang dengan jelas kedalam pikiran dan hati.

3. Hafalkan ayat tersebut dengan menghafalkan bentuk tulisan huruf-huruf dan tempat-tempatnya.

4. Setelah itu pejamkan kedua mata dan.

5. Bacalah dengan suara pelan lagi konsentrasi (posisi mata tetap terpejam dan santai).

6. Kemudian baca ayat tersebut dengan suara keras (posisimata tetap terpejam dan jangan tergesa-gesa).

7. Ulangi sampai 3x atau sampai benar-benar hafal.

8. Beri tanda pada kalimat yang dianggap sulit dan bermasalah (garis bawah/distabilo).

9. Jangan pindah kepada hafalan baru sebelum hafalan lama sudah menjadi kuat.


Penggabungan ayat-ayat yang sudah dihafal

Setelah anda hafal ayat pertama dan kedua jangan pindah kepada ayat ketiga akan tetapi harus digabungkan terlebih dahulu antara keduanya dengan mengikuti langkah-langkah berikut ini:

1. Bacalah ayat pertama dan kedua sekaligus dengan suara pelan lagi konsentrasi.

2. Kemudian bacalah keduanya dengan suara keras lagi konsentrasi dan tenang.

3. Ulangi kedua ayat tersebut minimal 3x sehingga hafalan benar-benar kuat.

Begitulah seterusnya, pada tiap-iap dua tambahan ayat baru harus digabungkan dengan ayat sebelumnya sehingga terjadi kesinambungan hafalan.

4. Mengulang dari ayat belakang ke depan. Dan dari depan ke belakang.

5. Semuanya dibaca dengan suara hati terlebih dahulu kemudian dengan suara keras (mata dalam keadaan tertutup).

6. Begitu seterusnya. Setiap mendapatkan hafalan baru, harus digabungkan dengan ayat/halaman/juz sebelumya.


B. Sistem Jama’i.


Sistem ini menggunakan metode baca bersama, yaitu dua/tiga orang (partnernya) membaca hafalan bersama-sama secara jahri (keras) dengan:

a. Bersama-sama baca keras.

b. Bergantian membaca ayat-an dengan jahri. Keika partnernya membaca jahr dia harus membaca khafi (pelan) begitulah seterusnya dengan gantian.
Sistem ini dalam satu majlis diikuti oleh maksimal 12 peserta, dan minimal 2 peserta. Settingannya sebagai berikut:

a. Persiapan:

1. Peserta mengambil tempat duduk mengitari ustad/ustadzah.

2. Ustad/ustadzah menetapkan partner bagi masing-masing peserta.

3. Masing-masing pasangan menghafalkan bersama partnernya sayat baru dan lama sesuai dengan instruksi ustad/ustadzah.

4. Setiap pasangan maju bergiliran menghadap ustad/ustadzah untuk setor halaman baru dan muroja’ah hafalan lama.

b. Setoran ke ustad/ ustadzah:

1. Muroja’ah: 5 halaman dibaca dengan sistem syst-an (sistem gantian). Muroja’ah dimulai dari halaman belakang (halaman baru) kearah halaman lama.

2. Setor hafalan baru:

a. Membaca seluruh ayat-ayat yang baru dihafal secara bersama-sama.

b. Bergiliran baca (ayatan) dengan dua putaran. Putaran pertama dimulai dari yang duduk disebelah kanan dan putaran kedua dimulai dari sebelah kiri.

c. Membaca bersama-sama lagi, hafalan baru yang telah dibaca secara bergantian tadi.

3. Muroja’ah tes juz 1, dengan sistem acakan (2-3x soal). Dibaca bergiliran oleh masing-masing pasangan. Ketika peserta sendirian tidak punya partner, atau partnernya sedang berhalangan
hadir, maka ustad wajib menggabungkannya dengan kelompok lain yang kebetulan juz,
halaman dan urutannya sama, jika hafalannya tidak sama dengan kelompok lain maka ustad hendaknya menunjuk salah seorang peserta yang berkemampuan untuk suka rela menemani.

c. Muroja’ah ditempat:

1. Kembali ketempat semula.

2. Mengulang bersama-sama seluruh bacaan yang disetorkan baik muroja’ah maupun hafalan baru, dengan sistem yang sama dengan setoran.

3. Menambah hafalan baru bersama-sama untuk disetorkan pada pertemuan berikutnya.

4. Jangan tinggalkan majlis sebelum mendapat izin ustad/ustadzah.


IV. Keistimewaan sistem jama’i


1. Cepat menguasai bacaan al-qur’an dengan benar.

2. Menghilangkan perasaan grogi dan tidak PD ketika baca al-qur’an didepan orang lain.

3. Melatih diri agar tidak gampang tergesa-gesa dalam membaca.

4. Mengurangi beban berat menghafal al-qur’an.

5. Melatih untuk menjadi guru dan murid yang baik.

6. Menguatkan hafalan lama dan baru.

7. Semangat muroja’ah dan menambah hafalan baru.

8. Meringankan beban ustad.

9. Kesibukannya selalu termotivasi dengan al-qur’an.

10. Mampu berda’wah dengan hikmah wa al-mau’idhah al-hasanah.

11. Siap untuk dites dengan sistem acakan.

12. Siap menjadi hamba-hamba Allah yang berlomba menuju kebaikan.


V. Jaminan


1. Hafalan al-qur’an lanyah dan lancar dalam masa tempo yang sesingkat-singkatnya. (perlu bukti, admin imm).

2. Sukses dan bahagia di dunia dan akhirat.

3. Pilihan Allah dan memperoleh surga ‘adn diakhirat nanti (surah fatir:23-24)


VI. Metode Muroja’ah (Pengulangan dan penjagaan fardhi atau jama’i)


Ayat-ayat al-qur’an hanya akan tetap bersemayam didalam hati utu al-‘ilm jika ayat-ayat yang dihafal selalu diingat, diulang dan dimuroja’ah.

Berikut ini cara muroja’ah:

1. Setelah hafal setengah juz/satu juz, harus mampu membaca sendiri didepan ustad/ustadzah dan penampilan.

2. Setiap hari membaca dengan suara pelan 2 juz. Membaca dengan suara keras (tartil) minimal 2 juz setiap hari.

3. Simakkan minimal setengah juz setiap hari kepada teman/murid/jama’ah/istri/
suami dst.

4. Ketika lupa dalam muroja’ah maka lakukan berikut ini:

• Jangan langsung melihat mushaf, tapi usahakan mengingat-ingat terlebih dahulu.

• Ketika tidak lagi mampu mengingat-ingat, maka silahkan melihat mushaf
dan,

• Catat penyebab kesalahan. Jika kesalahan terletak karena lupa maka berilah tanda garis bawah. Jika kesalahan terletak karena faktor ayat mutasyabihat (serupa dengan ayat lain) maka tulislah nama surat/no./juz ayat yang serupa itu di halaman pinggir (hasyiyah).

Jumat, 12 April 2013

American Dogs Abusing Muslim women.flv

Perlakuan Biadab dan Pelecehan Tentara Amerika Terhadap Wanita Muslimah


Kemanakah suara ulama-ulama sû’ (Ulama-ulama Pemerintah yang jahat, -ed), yang tidak pernah kami dengar suaranya selain ketika mencela para mujahidin? Di mana mereka ketika kehormatan para muslimat membutuhkan perlindungan? Duh, kalaulah mereka tidak mau membela karena semangat agama, mengapa mereka tidak merasa merasa cemburu akan kehormatan (yang dilecehkan)? Kalaulah mereka tidak tertarik dengan pahala ketika perang berkecamuk, mengapakah mereka tidak mendatanginya walau demi mendapatkan harta ghanimah?
Kami sambut seruanmu, wahai ibunda. Kami sambut seruanmu, wahai saudariku. Kami sambut panggilan kalian, wahai wanita-wanita suci dan terjaga kehormatannya. Demi Allah, kami takkan merasa hidup tenang, mata kami tidak akan bisa terpejam, dan pedang kami tak akan tersarungkan, sebelum kami balaskan kehormatan kalian yang dilecehkan. Dan kami berjanji kepada Allah, hai “anjing Rum”, Bush, bahwa kamu tidak akan merasakan hidup tenang dan tentaramu tidak hidup nyaman dan tidur nyenyak selagi masih ada dalam diri kami urat yang bergerak dan jantung yang berdetak. Sungguh, kami telah datang… dengan pertolongan Allah, kami telah datang… 
Wahai singa-singa tauhid di negeri Dua Aliran Sungai (Irak, -ed) yang tercinta, kuizinkan kepada kalian, jika seruanku ini sampai kalian, untuk tidak melewatkan satu malam pun melainkan pedang-pedang kalian berlumurkan darah musuh-musuh kalian. Lakukanlah itu secara berulang-ulang. Berdirilah satu barisan. Sungguh, tak ada artinya hidup ketika kehormatan kita dilecehkan, kemuliaan saudari-saudari kita dihinakan, dan ketika kita diperbudak oleh para penyembah salib. Dan jadikanlah Ghazwah (Serangan) Pembalasan, Ghazwah (Syaikh) Abu Anas Al-Syami, sebagai era baru untuk membuka kemanangan-kemenangan baru, dengan izin Allah.
Wahai pasukan Isytisyhadiyah (Bom Syahid. –ed), majulah dengan barakah Allah. Jangan biarkan ada satu pun rombongan kafilah musuh yang lewat begitu saja. Jangan sisakan tembok untuk mereka berlindung. Ubahlah malam mereka menjadi siang, dan kesejukan mereka menjadi kobaran api!!! 
Puncak agama paling utama adalah jihad… Maka marilah kita berjihad, atau kalau tidak akhiri saja hidup kita…
Ya Allah, Dzat Yang menurunkan Kitab, Yang Maha Cepat perhitungannya, Yang menggerakkan awan, kalahkanlah pasukan koalisi… Ya Allah, kalahkanlah mereka dan guncangkanlah mereka…
“Dan Allah Maha Menang atas urusan-Nya akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti”. (Qs. Yusuf : 21)
Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi -rahimahullah-

http://www.acehloensayang.com/2012/01/perlakuan-biadab-dan-pelecehan-tentara.html

Kamis, 04 April 2013

"Momentum Kepahlawanan"



"Momentum Kepahlawanan"

Seseorang tidak menjadi pahlawan karena ia melakukan pekerjaan-pekerjaan kepahlawanan sepanjang hidupnya. Kepahlawanan seseorang biasanya mempunyai momentumnya. Ada potongan waktu tertentu dalam hidup seseorang dimana anasir (unsur-unsur -ed) kepahlawanan menyatu padu. Saat itulah ia tersejarahkan.
Akan tetapi, kita tidak mengetahui kapan datangnya momentum itu. Yaitu, kematangan pribadi dan peluang sejarah. Simaklah firman Allah SWT, “Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan....” (Al-Qashash: 14)
Usaha manusiawi yang dapat kita lakukan adalah mempercepat saat-saat kematangan pribadi kita. Ini jenis kerja kapitalisasi asset kesejarahan personal kita. Yang kita lakukan di sini adalah mengumpulkan sebanyak mungkin potensi dalam diri kita, mengolahnya, dan kemudian mengkristalisasikannya. Dengan cara ini, kita memperluas “ruangan keserbamungkinan” dan sedikitnya membantu kita menciptakan peluang sejarah. Atau, setidaknya mengantar kita untuk berdiri dipintu gerbang sejarah.
Para pahlawan mukmin sejati tidak pernah mempersoalkan secara berlebihan masalah peluang sejarah. Kematangan pribadi seperti modal dalam infestasi. Seperti apapun baiknya peluang anda, hal itu tidak berguna jika pada dasarnya Anda memang tidak punya modal. Peluang sejarah hanyalah ledakan keharmonisan dari kematangan yang terabaikan. Seperti keharmonisan antara pedang dan keberanian dalan medan perang, antara kecerdasan dan pendidikan formal dalam dunia ilmu pengetahuan. Akan tetapi, anda harus memilih salah satunya, maka pilihlah keberanian tanpa pedang dalam perang, atau kecerdasan tanpa pendidikan formal dalam ilmu. Selebihnya, biarlah itu menjadi wilayah takdir dimana anda mengharap datangnya sentuhan keberuntungan.
Kesadaran semacam ini mempunyai dampak karakter yang sangat mendasar. Para pahlawan mukmin sejati bukanlah pemimpi di siang bolong, atau orang-orang yang berdoa dalam kekosongan dan ketidakberdayaan. Mereka adalah para petani yang berdoa ditengah sawah, para pedagang yang berdoa ditengah kecamuk perang. Mereka mempunyai mimpi besar, tetapi pikiran mereka tercurahkan sepenuhnya pada kerja. Sekali-kali mereka menatap langit untuk menyegarkan ingatan pada misi mereka. Namun, setelah itu mereka menyeka keringat dan kembali bekerja kembali.
Wilayah kerja adalah lingkungan realitas, sedangkan wilayah peluang adalah ruang keserbamungkinan. Semakin luas pijakan kaki kita dalam lingkaran kenyataan, semakin besar kemungkinan menjadi kepastian, mengubah peluang menjadi pekerjaan, mengubah mimpi menjadi kenyataan.
Berjalanlah dengan mantap menuju rumah sejarah. Jika engkau sudah sampai di depan pintu gerbangnya, ketuklah pintunya dan bacakan pada penjaganya puisi Chairil Anwar:

Aku
kalau sampai waktuku
ku mau tak seorang kan merayu
tidak juga kau ….


Anis Matta
'Soekarno Muda' Presiden PKS

Selasa, 19 Februari 2013

Kisah sangat inspiratif:"Jadikanlah al-Quran sebagai penjaga jiwamu dan kebun hatimu"


Kisah ini sangat menarik sekali, sekaligus mengharukan. Betapa tidak? Bagaimana terdapat pada seorang tokoh dua sifat; seorang yang ahli ibadah tapi juga pemberani di medan perang.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ia menjadi rebutan para komandan pasukan Islam dalam peperangan mereka karena keberanian dan doanya. Ia bernasib mujur karena mendapatkan isteri yang ahli ibadah pula dan seorang putra yang pemberani. Kekhusyuan shalatnya tidak terpengaruh oleh kedatangan singa yang hendak menerkamnya bahkan singa itu kemudian tunduk padanya…

"Shilah Bin Asy-yam al-Adawi menuntut ilmu dari sebagian besar sahabat dan mencontoh cara hidup halal dan akhlak mereka," (Ucapan al-Ashbahaani)

Shilah ibn Asyam al-Adawi seorang ahli ibadah dari para ahli ibadah malam dan seorang pejuang dari para pejuang siang.

Apabila kegelapan telah menutupkan tirainya ke alam semesta dan manusia terlelap dalam tidur…ia pun bangkit dan menyempurnakan wudlu, kemudian ia berdiri di mihrabnya dan masuk dalam shalatnya serta mendapatkan suka cita dengan Rabbnya.

Maka, bersinarlah cahaya ilahi dalam dirinya, menyinari bashirahnya ke penjuru dunia, memperlihatkannya akan ayat-ayat Allah di ufuk.

Disamping itu semua, ia adalah orang yang hobby membaca al-quran di waktu fajar, Apabila sepertiga malam terakhir telah tiba, ia mencondongkan bengkaunnya kepada juz-juz al-quran…Mulailah (lidahnya) mentartil ayat-ayat Allah yang jelas dengan suara merdu dan suara tangisan.

Terkadang ia mendapatkan kelezatan al-quran yang menyentuh ke dalam hatinya dan mendapatkan ketakutan kepada Allah dengan akal jernihnya.

Pada sisi lain, ia merasakan al-quran berisi ancaman yang memecah hatinya…

Shilah ibn Asyam tidak pernah bosan dari ibadahnya ini sekalipun. Tidak ada bedanya apakah di rumahnya atau dalam perjalanan, di saat sibuk atau di saat waktu luangnya.

Jafar ibn Zaid menghikayatkan, "Kami keluar bersama salah satu dari pasukan muslimin dalam sebuah perang ke kota "Kabul" (ibukota Afghanistan, terletak dekat sungai Kabul) dengan harapan Allah akan memberikan kemenangan kepada kami. Dan adalah Shilah ibn Asyam berada di tengah pasukan.

Ketika malam telah menutupkan tirainya –dan kami berada di tengah perjalanan-, para pasukan menurunkan bekalnya dan menyantap makanannya lalu menunaikan shalat Isya…

Mereka kemudian pergi menuju ke kendaraannya mencari kesempatan untuk istirahat di sisinya…
Maka, aku melihat Shilah ibn Asyam pergi menuju ke kendaraannya sebagaimana mereka pergi. Ia lalu meletakkan pinggangnya untuk tidur sebagaimana yang mereka lakukan.

Aku lantas berkata dalam hati, "Dimanakah yang orang-orang riwayatkan tentang shalatnya orang ini dan ibadahnya serta apa yang mereka sebarkan tentang shalat malamnya hingga kakinya bengkak?! Demi Allah, aku akan menunggunya malam ini hingga aku melihat apa yang dikerjakannya."

Tidak lama setelah para prajurit terlelap dalam tidurnya…hingga aku melihatnya bangun dari tidurnya dan berjalan menjauh dari perkemahan, bersembunyi dengan gelapnya malam dan masuk ke dalam hutan yang lebat dengan pepohonannya yang tinggi dan rumput liar. Seakan-akan belum pernah dijamah sejak waktu yang lama.
Aku berjalan mengikutinya…

Sesampinya ia di tempat yang kosong, ia mencari arah kiblat dan menghadap kepadanya. Ia bertakbir untuk shalat dan ia tenggelam di dalamnya…aku melihatnya dari kejauhan. Aku melihatnya berwajah berseri…tenang anggota badannya dan tenang jiwanya. Seakan-akan ia menemukan seorang teman dalam kesepian, (menemukan) kedekatan dalam jauh dan cahaya yang menerangi dalam gelap.

Di saat dia demikian…tiba-tiba muncul kepada kami seekor singa dari sebelah timur hutan. Setelah aku merasa aku merasa yakin darinya, bahwa yang datang itu macan hatiku serasa copot saking takutnya. Aku lalu memanjat sebatang pohon yang tinggi untuk melindungiku dari ancamannya.

Singa tersebut terus saja mendekat kepada Shilah ibn Asyam, sedangkan ia tenggelam dalam shalatnya hingga jaraknya tinggal beberapa langkah saja darinya…Dan demi Allah ia tidak menoleh kepadanya…tidak mempedulikannya…

Tatkala ia sujud, aku berkata, "Sekarang (saatnya) ia akan menerkamnya."
Ketika ia bangkit dari sujudnya dan duduk, singa itu berdiri di hadapannya seakan-akan memperhatikannya.

Ketika ia salam dari shalatnya, ia mengucapkan sesuatau kepada singa itu dengan tenang…dan menggerakkan kedua bibirnya dengan ucapan yang tidak aku dengar.

Dan tiba-tiba saja singa tersebut berpaling darinya dengan tenang, dan kembali ke tempat semula.

Di saat fajar telah terbit, ia bangkit untuk menunaikan shalat fardlu. Kemudian ia mulai memuji Allah AWJ dengan pujian-pujian yang aku belum pernah mendengar yang sepertinya sekalipun.

Ia kemudian berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu agar menyelamatkan aku dari neraka…Apakah seorang hamba yang berbuat salah seperti aku berani untuk memohon surga kepadaMu?!"

Ia terus saja mengulang-ulangnya hingga ia menangis dan membuatku ikut menangis.

Kemudian ia kembali ke pasukannya tanpa ada seorang pun yang tahu.
Nampak di mata orang-orang, seakan-akan ia baru bangun dari tidur di kasur. Sedangkan aku kembali dari mengikutinya, dan aku merasa (lelah dari) begadang malam…badan penat…dan ketakutan terhadap singa…dan apa-apa yang Allah Maha Tahu dengannya.

Di samping itu semua, Shilah ibn Asyam tidak pernah membiarkan satu kesempatan dari kesempatan-kesempatan mauidzah dan peringatan kecuali ia memanfaatkannya.

Dan metodhe dakwahnya adalah ia menyeru kepada jalan Rabbnya dengan hikmah dan mauidzah hasanah. Jiwa-jiwa yang lari ia condongkan (dekatkan)…hati-hati yang keras ia lemahkan (lunakkan).

Di antaranya, bahwa ia pernah keluar ke daratan di tanah Bashrah untuk khalwah (menyepi) dan beribadah…

Lalu sekelompok pemuda yang akan bersenang-senang melewatinya, Mereka bermain-main, bersendau gurau dan bergembira, Ia (Shilah) menyalami mereka dengan halus.

Dan dengan lembut ia berkata kepada mereka, "Apa yang kalian katakan tentang suatu kaum yang berazm untuk safar karena suatu urusan besar, hanya saja mereka di waktu siang berbelok dari jalan untuk berbuat sia-sia dan bermain-main….dan di waktu malam mereka tidur untuk istirahat.

Maka kapankah kalian melihat mereka menyelesaikan perjalanannya dan sampai di tempat tujuan?! dan ia terbiasa mengucapkan kalimat tersebut di saat itu dan pada saat yang lain.
Pada suatu ketika ia bertemu dengan mereka dan ia mengucapkan kata-katanya tersebut kepada mereka…

Maka, salah seorang pemuda dari mereka bangkit dan berkata, "Sesungguhnya dia –demi Allah- tidak memaksudkan perkataannya kepada siapapun selain kita. Kita di siang hari bermain-main….dan di malam hari tidur"

Kemudian pemuda tersebut memisahkan diri dari teman-temannya dan mengikuti Shilah ibn Asyam sejak hari itu. Ia terus menemaninya hingga kematian menjemputnya.

Di antaranya pula, bahwa pada suatu siang ia pernah pergi bersama sekelompok sahabatnya kepada suatu tujuan. Lalu lewatlah di depan mereka seorang pemuda yang menakjubkan dan bagus penampilannya….

Pemuda tersebut memanjangkan kain celananya hingga ia menyeretnya di tanah seperti orang sombong…

Para sahabatanya lalu bermaksud (melakukan tindakan) terhadap pemuda tersebut, mereka ingin mencemoohnya dengan perkataan dan memukulnya dengan keras…

Maka Shilah berkata kepada mereka, "Biarkan aku, yang akan menyelesaikan urusannya."

Ia mendekati pemuda tersebut dan berkata dengan kelembutan seorang ayah yang penuh sayang…dan bahasa seorang sahabat yang jujur, "Wahai anak saudaraku, sesungguhnya aku punya hajat kepadamu."

Pemuda itu berhenti, dan berkata, "Apa itu wahai paman?"

Ia berkata, "Hendaklah kamu mengangkat kainmu, sesungguhnya yang demikian itu lebih suci untuk pakaianmu…lebih bertakwa kepada Rabbmu…dan lebih dekat dengan sunnah Nabimu."

Dengan rasa malu pemuda itu berkata, "Ya, dengan senang hati…"

Kemudian ia segera mengangkat kainnya.

Shilah berkata kepada sahabatnya, "Sesungguhnya yang seperti ini lebih baik daripada apa yang kalian inginkan…kalau seengkauinya kalian memukulnya dan mencemoohnya niscaya ia akan memukul dan mencemooh kalian…dan tetap membiarkan kainnya menjulur menyapu tanah."

Pada suatu kali seorang pemuda dari Bashrah mendatangainya dan berkata, "Wahai Abu ash-Shahbaa, ajari aku apa-apa yang telah Allah ajarkan kepadamu."

Maka Shilah tersenyum dan berseri wajahnya, dan ia berkata, "Sungguh kamu telah mengingatkan aku -wahai anak saudaraku- tentang kenangan lama yang tidak aku lupakan…dimana pada saat itu aku seorang pemuda sepertimu…Aku mendatangi orang yang tersisa dari sahabat Rasulullah SAW, dan aku berkata kepada mereka:

"Ajarilah aku apa-apa yang telah Allah ajarkan kepada kalian," Mereka berkata, "Jadikanlah al-Quran sebagai penjaga jiwamu dan kebun hatimu. Dengarkan nasehatnya dan nasehatilah kaum muslimin dengannya.

Perbanyaklah berdoa kepada Allah Azza Wa Jalla semampumu."
Anak muda itu berkata, "Berdoalah untukku, semoga engkau dibalasi dengan kebaikan."

Ia menjawab, "Semoga Allah menjadikanmu senang (antusias) untuk memperoleh yang kekal (akhirat)…dan menjadikanmu zuhud terhadap yang fana (dunia)…dan menganugrahkan keyakinan kepadamu yang mana jiwa menjadi tenang kepadanya, dan dibutuhkan kepadanya dalam agama."

Shilah memiliki seorang misan perempuan bernama "Muâdzah Al-Adawiyah."..Dia adalah seorang tabiin sepertinya…di mana ia pernah bertemu dengan ummul mukminin Aisyah RA dan mengambil ilmu darinya.

Kemudian al-Hasan al-Bashri –semoga Allah mengharumkan ruhnya- berjumpa dengannya dan mengambil (ilmu) darinya.

Ia seorang wanita yang bertakwa dan suci…taat ibadah dan zuhud.
Di antara kebiasaannya adalah apabila malam tiba, ia berkata, "Bisa jadi ini adalah malam terakhir bagiku, maka janganlah kamu tidur hingga pagi…." Dan apabila siang tiba, ia berkata, "Mungkin ini adalah hari terakhir bagiku, maka janganlah pinggang ini merasa tenang hingga sore."

Di musim dingin, ia mengenakan pakaian yang tipis sehingga rasa dingin menghalanginya untuk condong kepada tidur dan berhenti dari ibadah.
Ia menghidupkan malamnya dengan shalat dan banyak beribadah.

Apabila rasa kantuk mengalahkannya ia berjalan berputar-putar di rumahnya dan berkata, "Wahai jiwa, di depanmu ada tidur panjang…besok kamu akan tidur panjang di kuburan…entah di atas penyesalan atau di atas kesenangan. Maka pilihlah untuk dirimu wahai Muaadzah pada hari ini apa yang kamu sukai agar kamu besok menjadi apa."

Shilah ibn Asyam walaupun begitu kuat dalam beribadah dan begitu tinggi zuhudnya tidaklah ia membenci sunnah Nabinya SAW (dalam hal menikah), ia lalu meminang anak perempuan pamannya (misannya) "Muaadzah" untuk dirinya.

Ketika hari disandingkannya ia kepada Shilah, keponakan laki-lakinya mengurusinya dan membawanya ke kamar mandi kemudian memasukkannya menemui istrinya di rumah yang diberi wewangian…

Setelah keduanya bersama-sama, ia berdiri shalat dua rakaat sunnah, ia (istrinya) berdiri shalat dengan shalatnya dan mengikutinya.

Kemudian sihir shalat menarik keduanya hingga keduanya berlanjut shalat bersama hingga fajar menjadi terang.

Di pagi harinya, keponakannya datang menemuinya dan berkata, "Wahai paman, anak perempuan pamanmu telah disandingkan kepadamu, lalu kamu berdiri shalat sepanjang malam dan kamu meninggalkannya."

Ia menjawab, "Wahai anak saudaraku…sesungguhnya kemarin kamu telah memasukkan aku ke sebuah rumah yang dengannya kamu telah mengingatkan aku kepada neraka…kemudian kamu memasukan aku ke tempat lain yang dengannya kamu mengingatkan aku kepada surga…Pikiranku terus saja memikirkan keduanya hingga pagi."

Anak muda itu berkata, "Apa itu wahai paman?!"
Ia menjawab, "Sungguh kamu telah memasukkan aku ke kamar mandi, maka hawa panasnya telah mengingatkan aku akan panas neraka…kemudin kamu memasukkan aku ke rumah pengantin, sehingga bau harumnya mengingatkan aku kepada wangi surga…"

Shilah ibn Asyam bukan hanya orang yang banyak khasyah kepada Allah dan banyak bertaubat, ahli ibadah dan zuhud semata. Disamping itu ia adalah seorang penunggang kuda (prajurit) yang kuat dan pahlawan yang berjihad.

Sedikit sekali medan pertempuran yang mengenal seorang pemberani yang lebih kuat darinya…lebih kuat jiwanya…dan lebih tajam tebasan pedangnya. Sehingga para panglima muslimin berlomba-lomba untuk menariknya kepada (pasukan) mereka.

Setiap dari mereka ingin memperoleh kemenangan dengan keberadaannya di perkemahannya, agar dengan karunia keberaniannya ia memetik kemenangan besar yang dicita-citakan.
Jafar ibn Zaid meriwayatkan, ia menuturkan, "Kami keluar dalam suatu peperangan.

Dan bersama kami ada Shilah ibn Asyam dan Hisyam ibn Aamir…Ketika kami telah bertemu musuh, Shilah dan sahabatnya melesat dari barisan kaum muslimin dan keduanya menerobos kumpulan musuh, menusuk dengan tombak dan membabat dengan pedang, sehingga keduanya memberi pengaruh yang besar terhadap front depan pasukan.

Maka sebagian panglima musuh berkata kepada sebagian yang lain, "Dua orang tentara muslimin telah menurunkan (menimpakan) kepada kita hal seperti ini, bagaimana jadinya apabila mereka seluruhnya memerangi kita? Tunduklah kalian kepada hukum muslimin dan tunduklah dengan taat kepada mereka."

Pada tahun 76 H, Shilah ibn Asyam keluar dalam sebuah peperangan bersama pasukan muslimin menuju negeri Maa waraaun nahri* dan ia ditemani oleh anaknya.

Ketika kedua pasukan saling berhadapan, dan perang semakin berkecamuk. Berkatalah Shilah kepada anaknya, "Wahai anakku…majulah dan perangilah musuh-musuh Allah sehingga jika kamu syahid, aku akan mengharap pahalanya dari Allah Dzat yang tidak akan pernah hilang titipan-titipan di sisi-Nya."

Pemuda tersebut melesat memerangi musuh layaknya anak panah yang melesat dari busurnya, ia terus saja bertempur hingga jatuh tersungkur syahid.

Tidak berlangsung lama, sehingga ayahnya pergi mengikutinya. Ia terus berjihad sehingga mati syahid di sampingnya.

Ketika berita kematian keduanya sampai ke Bashrah, para wanita segera menemui "Muaadzah al-Adawiyah" untuk menghiburnya. Ia lalu berkata kepada mereka, "Apabila kalian datang untuk mengucapkan selamat kepadaku, maka selamat datang atas kalian…namun apabila kalian datang untuk hal lain, maka kembalilah dan semoga kalian dibalasi dengan kebaikan…"

Semoga Allah menjadikan wajah-wajah yang mulia ini berseri, Dan semoga Allah membalasinya dengan kebaikan atas Islam dan Muslimin Aamiin yaa Rabbal Alamiin..

Minggu, 10 Februari 2013

tahapan-tahapan dalam belajar ilmu syari

Tahapan-tahapan dalam belajar ilmu syar’i

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Banyak pertanyaan tentang tata cara menuntut ilmu, ilmu apa yang pertama kali harus dipelajari oleh orang yang ingin menuntut ilmu dan matan apa yang pertama kali harus dihafal? Bagaimana pengarahan Anda bagi para penuntut ilmu tersebut? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya:
Banyak pertanyaan tentang tata cara menuntut ilmu, ilmu apa yang pertama kali harus dipelajari oleh orang yang ingin menuntut ilmu dan matan apa yang pertama kali harus dihafal? Bagaimana pengarahan Anda bagi para penuntut ilmu tersebut? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.Beliau menjawab:
Pertama-tama dan sebelum saya memberikan pengarahan kepada para penuntut ilmu tersebut, saya ingin mengarahkan mereka terlebih dahultieagar mereka menuntut ilmu dari seorang syaikh yang berilmu karena mencari ilmu dari seorang alim terkandung dua faedah yang agung:
Pertama
Lebih efektif karena seorang alim mempunyai daya telaah dan pengetahuan dan memberikan ilmu kepadamu dengan ilmu yang matang dan mudah.
Kedua
Mencari ilmu dari seorang yang alim akan lebih dekat kepada kebenaran, dalam arti orang yang menuntut ilmu kepada seorang yang bukan alim akan menimbulkan sikap mengada-ada dan pendapat-pendapat yang syadz (menyimpang/ganjil) yang jauh dari kebenaran. Hal itu disebabkan karena dia tidak membaca kitab di hadapan orang alim yang ilmunya mendalam sehingga bisa mendidiknya di atas jalan yang dipilihnya.
Maka menurut pendapat saya, seseorang harus bersungguhsungguh memiliki seorang guru untuk mencari ilmu, karena jika dia memiliki guru maka guru tersebut akan mengarahkannya dengan pengarahan yang menurutnya sesuai dengan murid (yang diajarnya).
Adapun jawaban bagi pertanyaan di atas, maka secara umum kita katakan:
Pertama
Lebih utama bagi seseorang untuk menghafal Kitabullah sebelum kitab lainnya karena ini merupakan kebiasaan para Sahabat radhiallahu?anhum. Mereka tidak bergeser dari sepuluh ayat pertama sebelum mereka mempelajari (menghafal) ilmu yang terkandung di dalamnya serta mengamalkannya. Dan Kalamullah adalah kalam yang paling sempurna secara mutlak.
Kedua
Dia harus mengambil matan (redaksi) hadits-hadits ringkas yang akan menjadi simpanan baginya ketika berdalil dengan Sunnah, seperti `Umdatul Ahkaam, Buluughul Maraam, al Arba’iin An Nawawiyyah dan yang semisalnya.
Ketiga
Menghafal matan-matan fiqih yang sesuai dengan dirinya dan matan yang paling bagus yang kita hafal adalah Zaadul Mustaqni’ fii Ikhtishaaril Muqni’ karena (syarah) kitab ini telah dikerjakan oleh pensyarahnya Manshur bin Yunus al-Bahuthi dan orang-orang setelahnya dari orang-orang yang mengerjakan syarah dan matan kitab ini dengan catatan kaki yang banyak.
Keempat
Nahwu. Tahukah engkau apa itu nahwu yang tidak diketahui oleh para penuntut ilmu kecuali hanya sedikit saja di antara mereka sehingga engkau melihat seseorang telah lulus dari satu fakultas dalam keadaan tidak mengetahui ilmu nahwu sedikit pun, persis seperti apa yang digambarkan oleh seorang penya’ir:

لا بارك الله في النحو ولا أهله * إذا كان منسـوبا إلى نفطويه
أحـرقه الله بنصـف اسـمه * وجعل الباقي صـراخاً عليه

Semoga Allah tidak memberi barakah dalam nahwu dan ahlinya
Apabila dia dinisbatkan kepada omongan yang tidak terfahami
Semoga Allah membakarnya dengan separuh namanya
Dan menjadikan sisanya sebagai teriakan atasnya.
Mengapa penya’ir ini berkata demikian? Jawabnya karena dia lemah tentang nahwu. Tetapi saya katakan bahwa pintu nahwu itu pintunya dari besi, sedangkan lorongnya adalah benang emas. Artinya dia amat keras dan sukar ketika pertama kali memasukinya tetapi jika pintunya telah terbuka bagi orang yang mencarinya, dia akan merasakan kemudahan pada langkah selanjutnya dengan semudah-mudahnya sehingga jadilah dia sesuatu yang mudah baginya, sehingga beberapa penuntut ilmu yang baru memulai dalam mempelajari nahwu menjadi terpikat. Maka jika engkau berbicara kepada mereka dengan pembicaraan yang biasa, dia akan mengi’rabnya (mengurainya) agar terlatih dalam hal i’rab. Di antara matan nahwu yang paling baik adalah al-Aajuruumiyyah, sebuah kitab yang ringkas tetapi sangat terfokus (padat). Oleh karena itu saya nasihatkan bagi para pemula untuk memulai dengan kitab ini. Maka inilah pokok-pokok yang harus dijadikan landasan bagi para penuntut ilmu.
Kelima
Adapun yang berhubungan dengan ilmu tauhid, maka kitab-kitab tentang masalah ini amatlah banyak. Di antaranya: Kitaabut Tauhiid karya Syaikhul Islam Muhammad bin `Abdil Wah-hab rahimahullah, al-Aqiidah al-Waasithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan kitab ini sangat banyak dan sangat dikenal, wal hamdulillah
Dan nasihat umum bagi para penuntut ilmu bahwa ilmunya harus berdampak terhadap dirinya berupa takwa kepada Allah melaksanakan ketaatan kepada-Nya, berakhlak mulia, ihsan (berbuat baik) kepada sesama makhluk dengan cars mengajar, membimbing, dan gigih dalam menyiarkan ilmu melalui berbagai media, baik melalui koran, majalah, kitab-kitab, risalah, buletin dan media lainnya.
Saya pun menasihatkan kepada para penuntut ilmu agar tidak tergesa-gesa dalam menghukumi (memvonis) sesuatu. Karena sebagian penuntut ilmu yang masih pemula engkau lihat tergesa-gesa dalam berfatwa dan menetapkan hukum. Dan terkadang menyalahkan para ulama besar sedangkan dia (memiliki tingkatan yang) jauh di bawah para ulama tersebut, sehingga beberapa orang mengatakan, Saya berdebat dengan salah seorang penuntut ilmu yang masih pemula, lalu saya katakan kepadanya bahwa ini adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal. Maka dia berkata, Siapa Imam Ahmad bin Hanbal? Imam Ahmad bin Hanbal laki-laki, kita pun laki-laki. Subhanallaah!!. Memang benar Imam Ahmad bin Hanbal laki-laki dan engkau laki-laki sehingga kalian berdua sama dalam hal kelaki-lakiannya, adapun dalam hal ilmu maka antara kalian berdua terdapat perbedaan yang amat jauh. Tidak semua laki-laki layak dianggap sebagai laki-laki dalam hal ilmu.
Saya katakan: Seorang penuntut ilmu wajib bertatakrama dengan sikap tawadhu’, tidak merasa ta’jub dengan diri sendiri, dan hendaklah mengetahui kemampuan diri.
Di antara hal yang penting bagi seorang penuntut ilmu: janganlah dia banyak menelaah pendapat para ulama, karena jika engkau banyak menelaah pandapat para ulama dan menelaah al-Mughni dalam masalah fiqih karya Ibnu Qudamah, al-Majmuu’ karya anNawawi, dan kitab-kitab besar yang menerangkan ikhtilaf dan engkau mendiskusikannya, maka engkau akan sia-sia (rusak). Mulailah pertama kali, seperti yang telah saya katakan, dengan matan-matan yang ringkas, sedikit demi sedikit sehingga engkau akan sampai kepada tujuan. Adapun jika engkau ingin menaiki pohon dari rantingnya, maka ini adalah salah.
(Diambil dari Kitabul ‘Ilmi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin)

Sabtu, 29 Desember 2012

cerita tentang zuhud dengan dunia

jihad adalah jalan juangku
KISAH PUTERA KHALIFAH HARUN AR RASYID ...

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Khalifah Harun Ar Rasyid rah.a mempunyai seorang putera sekitar enam belas tahun. Ia sering bergaul dengan para ahli zuhud dan tokoh-tokoh agama pada masa itu.

Ia sering mengunjungi tanah kuburan, duduk di tepi kubur dan berkata, "Ada masanya ketika kamu tinggal di dunia ini dan kamu sebagai tuannya, tetapi ternyata dunia tidak melindungimu dan nasibmu berakhir di kubur. Seandainya aku tahu apa yang engkau alami sekarang ini, tentu aku ingin mengetahui apa yang kamu katakan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan kepadamu."

Ia sering membaca syair :

Pemakaman menakutkanku setiap hari dan ratapan wanita-wanita yang berduka cita membuatku sedih.

Pada suatu hari, anak itu datang ke istana ayahnya Harun Ar Rasyid, yang sedang duduk bersama ajudan pribadinya, para pejabat dan tamu-tamu terhormat lainnya. Sedangkan puteranya itu berpakaian sangat sederhana, dengan sorban di kepalanya. Ketika orang-orang istana itu melihatnya demikian, mereka berkata, "Keadaan anak ini menghina Amirul Mukminin di hadapan para bangsawan, jika ia dapat memperingatkannya, mungkin anak itu akan menghentikan kebiasaannya."

Khalifah mendengar ucapan itu, maka ia berkata kepada anaknya, "Anakku sayang, engkau telah mempermalukanku di hadapan para bangsawan."

Anak itu tidak berkata sepatah katapun atas ucapan ayahnya. Bahkan ia memanggil seekor burung yang bertengger di dekat situ, "Wahai burung, aku memohon kepadamu, demi Dzat yang menciptakanmu, datanglah dan duduklah di atas tanganku."

Burung itu terbang menghampirinya dan hinggap di atas tangannya. Kemudian anak itu menyuruhnya terbang lagi, dan burung itu pun terbang lagi ke tempat semula. Kemudian ia berkata kepada ayahnya, "Ayahku sayang, sesungguhnya kecintaanmu kepada dunia inilah yang memalukan diriku. Aku telah memutuskan untuk berpisah denganmu." Setelah berkata demikian, ia pergi hanya berbekal Al Quran saja.

Ketika ia memohon pamit kepada ibunya, ibunya memberi sebuah cincin yang sangat indah dan mahal, (agar ia dapat menjualnya jika ia memerlukan uang). Anak laki-laki itu pergi ke Basrah, dan bekerja bersama para buruh. Namun ia hanya bekerja pada hari Sabtu saja. Dan ia gunakan upahnya sehari untuk satu minggu, dengan menggunakan (satu danaq) seperenam dirham setiap hari.

Kisah selanjutnya diceritakan oleh Abu Amir Bashri rah.a., ia berkata, "Pada suatu ketika, sebelah dinding rumahku roboh dan aku membutuhkan seorang tukang batu untuk memperbaikinya. Ada seseorang yang memberitahuku bahwa ada seorang anak laki-laki yang dapat mengerjakan pekerjaan tukang batu.

Maka akupun mencarinya. Di luar kota, aku melihat seorang pemuda tampan sedang duduk di tanah sambil membaca al Quran dengan sebuah tas di sisinya. Aku menanyainya, apakah ia mau bekerja sebagai buruh? Ia menjawab, "Tentu, kita telah diciptakan untuk bekerja. Pekerjaan apakah yang tuan inginkan untukku?"

Kukatakan bahwa aku membutuhkan seorang tukang batu untuk mengerjakan bangunan. Ia berkata, "Aku mau asalkan upahku satu dirham dan satu danaq sehari. Dan aku akan berhenti kerja dan pergi ke masjid bila tiba waktu shalat, kemudian kulanjutkan pekerjaan tersebut setelah shalat." Aku menyetujuinya.

Akhirnya ia ikut bersamaku dan mulai mengerjakan dinding itu. Pada sore harinya, aku kembali, dan aku sangat terkejut melihat bahwa ia telah melakukan pekerjaan seperti sepuluh orang tukang batu yang mengerjakannya. Akupun memberinya dua dirham. Tetapi ia menolak upah yang melebihi satu dirham dan satu danaq. Kemudian ia pergi hanya dengan upah yang telah disetujui.

Keesokan paginya, aku pergi lagi mencarinya, tetapi aku diberi tahu bahwa ia hanya bekerja pada hari Sabtu saja. Dan tiada seorangpun yang dapat menemukannya pada hari-hari lainnya. Karena aku sangat puas dengan pekerjaannya, maka kuputuskan untuk menunda pembangunan dindingku pada Sabtu depan. Pada hari Sabtu itu, aku mencarinya lagi dan kudapati ia di tempat yang sama sedang membaca al Quran sebagaimana biasa. Aku mengucapkan salam kepadanya, "Assalamu Alaikum."

"Wa Alaikumus Salam." Balasnya.

Ia bersedia bekerja lagi untukku dengan syarat yang sama. Ia pun ikut bersamaku dan mulai mengerjakan dinding itu lagi.

Disebabkan rasa heranku, bagaimana ia dapat mengerjakan pekerjaan sepuluh orang pekerja seorang diri seperti pada hari Sabtu yang lalu, maka akupun mengintipnya bekerja tanpa sepengetahuannya. Aku melihatnya dengan sangat takjub, bahwa ketika ia meletakkan adukan semen di dinding, maka batu-batu itu dengan sendirinya menyatu. Akhirnya aku sadar dan meyakini bahwa anak itu adalah kekasih Allah Swt. Sebagaimana hamba-hamba-Nya yang khusus saja yang mendapatkan pertolongan ghaib seperti itu dari Allah Swt.

Sore harinya, aku ingin memberinya tiga dirham, tetapi ia hanya mengambil satu dirham dan satu danaq kemudian pergi, sambil berkata, "Aku tidak membutuhkan lebih dari ini." Aku menunggu minggu berikutnya, lalu aku mencarinya pada Sabtu berikutnya, tetapi aku tidak berhasil menemukannya.

Aku bertanya kepada orang-orang. Ada seorang laki-laki memberitahuku bahwa anak itu sedang mengalami sakit selama tiga hari dan berbaring di tempat yang sepi. Kemudian aku membayar seseorang untuk mengantarkanku ke tempat itu. Setibanya di sana, ia sedang berbaring di atas tanah tak sadarkan diri. Kepalanya berbantalkan sepotong batu. Aku menyalaminya, tetapi ia tidak membalasnya.

Aku berkata, "Assalamu Alaikum." lebih keras lagi. Ia membuka matanya sedikit dan mengenaliku. Aku baringkan kepalanya di pangkuanku, tetapi ia kembali meletakkan kepalanya di atas batu, dan membaca beberapa syair. Dua diantaranya masih kuingat, berbunyi demikian :

"Wahai kawanku, janganlah engkau terpedaya dengan kemewahan dunia. Karena hidupku akan berlalu. Kemewahan hanyalah untuk sekejap mata. Dan bila engkau mengusung jenazah ke pemakaman, ingatlah suatu hari engkaupun akan diusung ke pemakaman."

Kemudian anak itu berkata kepadaku, "Abu Amir! Jika ruhku telah melayang, mandikanlah aku dan kafanilah aku dengan pakaian yang kupakai sekarang."

Sahutku, "Sayangku, aku tidak keberatan membelikan kain baru untuk kafanmu."

Ia berkata, "Orang yang masih hidup lebih menginginkan pakaian yang baru daripada yang mati."

Anak itu menambahkan, "Kafan (lama ataupun baru) akan segera membusuk. Yang tinggal dengan seseorang setelah kematian adalah amal perbuatannya. Berikan sorban dan kendi airku kepada penggali kuburku dan jika engkau telah memakamkanku, sampaikan al Quran dan cincin ini kepada khalifah Harun Ar Rasyid. Tolonglah agar langsung ke tangannya dan katakan kepadanya, "Benda-benda itu dipercayakan kepadaku oleh seorang lelaki asing yang memintaku untuk menyampaikannya kepada engkau dengan pesan, "Wahai ayah, perhatikanlah, jangan sampai engkau meninggal dalam kelalaian dan terpedaya oleh dunia."

Dengan kata-kata itu di bibirnya, anak itu meninggal dunia. Saat itu barulah kusadari bahwa anak itu adalah seorang pangeran.

Setelah wafat, akupun memandikannya, mengafaninya dan membaringkannya dalam kubur sesuai dengan pesannya. Lalu kuberikan sorban dan lothanya kepada penggali kuburnya. Kemudia aku pergi ke Baghdad untuk menyampaikan cincin dan al Quran kepada khalifah.

Sungguh beruntung, setibanya aku di sana, baru saja iringan khalifah keluar istana. Aku berdiri di sebuah tempat yang agak tinggi sambil memperhatikan pawai itu. Tidak lama kemudian keluarlah satu pasukan terdiri dari seribu orang berkuda, diikuti oleh sepuluh pasukan lagi yang masing-masing terdiri dari seribu orang berkuda.

Diantara pasukan yang terakhir, terlihatlah Amirul Mukminin, maka akupun langsung memanggilnya dengan berteriak, "Amirul Mukminin, aku mohon kepadamu, atas nama hubungan kekeluargaan dengan Rasulullah Saw., berhentilah sebentar."

Amirul Mukminin berhenti dan melihat sekeliling, lalu aku maju kedepannya dan menyerahkan kedua benda amanat dari almarhum putera pangeran itu, lalu aku berkata, "Benda-benda ini telah dipercayakan kepadaku oleh seorang pemuda asing yang kini telah meninggal dunia, ia berwasiat agar benda-benda ini disampaikan langsung ke tangan tuan."

Khalifah memandangi cincin dan al Quran itu sambil menundukkan kepalanya dengan sedih. Aku melihat air matanya mengalir, kemudian ia menyuruh pengurus istana untuk mengantarku ke istananya. Aku tinggal bersama pengurus istana itu.

Setelah khalifah kembali pada sore harinya. ia menyuruh agar tirai-tirai istana diturunkan, dan menyuruh pengurus istana agar agar membawaku ke hadapannya, kemudian ia berkata, "Lelaki itu hanya akan menimbulkan kesedihan bagiku."

Pengurus istana menemuiku dan berkata, "Amirul Mukminin memanggilmu, namun ingatlah, jiwanya sedang bergoncang. Jika engkau ingin mengatakan sesuatu dalam sepuluh kata, cobalah mengatakannya dengan lima kata saja."

Kemudian ia mengantarkanku ke kamar pribadi khalifah. Kulihat khalifah sedang duduk seorang diri, lalu ia menyuruhku untuk duduk di dekatnya. Ia bertanya kepadaku, "Apakah kamu mengenal anakku?"

Jawabku, "Ya."

Ia bertanya, "Apa saja yang ia lakukan untuk menafkahi hidupnya?"

Kukatakan bahwa ia bekerja sebagai tukang batu. Amirul Mukminin bertanya, "Apakah engkau juga pernah mempekerjakannya sebagai tukang batu?"

Aku berkata, "Ya, pernah kulakukan."

Amirul Mukminin berkata, "Apakah tidak terpikir olehmu, bahwa ia berhubungan keluarga dengan Rasulullah Saw.?" (Harun Ar Rasyid adalah keturunan Abbas r.a. paman Rasulullah Saw.)

Jawabku, "Wahai Amirul Mukminin! Pertama aku memohon ampun kepada Allah Swt. dan aku meminta maaf kepadamu, karena aku mengetahuinya setelah ia meninggal dunia."

Khalifah berkata, "Apakah engkau memandikannya dengan tanganmu sendiri?"

Aku berkata, "Ya."

Ia berkata, "Biarlah kusentuh tanganmu." Kemudian ia memegang tanganku ke dadanya dan mengusap-usap dadanya dengan tanganku, lalu ia membaca beberapa bait syair yang bunyinya :

"Wahai engkau yang menjauhkan dariku.
Hatiku larut dalam kesedihan atasmu.
Mataku mengalirkan air mata penderitaan.
Wahai engkau yang jauh pemakamannya.
Terlalu jauh. Kesedihanmu lebih dekat di hatiku.
Benar, kematian itu membingungkan kesenangan yang tertinggi di dunia.
Wahai anakku yang menjauh dariku.
Engkau bagai bulan yang tergantung di atas dahan perak.
Bulan telah menetap di kubur, sedang dahan perak menjadi debu."

Kemudian Harun Ar Rasyid memutuskan untuk pergi ke Basrah mengunjungi makam puteranya dan aku menemaninya. Ketika berdiri di sisi makam puteranya, Harun Ar Rasyid membaca syair berikut ini :

"Wahai pengembara ke alam yang tidak diketahui.
Tidak akan engkau kembali ke rumah.
Kematian telah merengutmu di awal masa remajamu.
Wahai penyejuk mataku, engkaulah pelipur laraku.
Kediaman hatiku, di kesunyian.
Engkau telah merasakan racun kematian.
Yang seharusnya ayahmulah yang minum di usia tuanya.
Sungguh setiap orang akan merasakan kematian.
Apakah ia seorang pengembara atau penduduk kota.
Segala puji bagi Allah Yang Esa. Yang tidak mempunyai sekutu.
Karena ini adalah bukti dari keputusannya."

Pada malam berikutnya setelah menunaikan kebiasaan ibadah harianku, dalam tidurku aku bermimpi melihat sebuah istana berkubah penuh nur. Di atasnya ada awan dari nur yang menaunginya. Dari awan nur itu keluarlah suara almarhum pemuda itu yang berkata, "Abu Amir, Semoga Allah Swt. menganugerahimu pahala terbaik."

Aku bertanya kepadanya, "Sahabatku, apa yang telah engkau alami di alam sana?"

Ia berkata, "Aku telah diakui di hadapan Tuhanku Yang Maha Pemurah dan Yang merasa senang denganku. Ia telah memberiku karunia yang mata tidak pernah melihatnya, telinga tidak pernah mendengarnya dan akal tidak dapat memikirkannya."

Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata, "Di dalam Taurat tertulis bahwa Allah Swt. menyiapkan suatu karunia bagi mereka yang meninggalkan tempat tidurnya untuk menangis kepada Tuhan mereka (dalam shalat Tahajjud) yang tidak pernah mata melihatnya, tidak pernah telinga mendengarnya, tidak pernah terpikirkan oleh akal seseorang dan tidak ada seorangpun atau malaikat yang mengetahuinya, dan tidak pernah diketahui oleh siapapun. Allah Swt. berfirman di dalam al Quran :
AsSajdah

"Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (As Sajdah ayat 17)

Kemudian arwah pemuda itu berkata kepadaku (dalam mimpi), "Allah Swt. telah berjanji kepadaku, bersumpah demi keagungan-Nya. bahwa Ia akan menganugerahi kehormatan dan karunia semacam itu kepada semua yang keluar dari dunia seperti aku, tanpa ternodai olehnya"

Penulis Raudh berkata bahwa kisah ini juga telah sampai kepadanya melalui periwayat yang lain. Ditambahkan dalam riwayat ini bahwa seseorang bertanya kepada Harun Ar Rasyid mengenai puteranya. Ia berkata, "Puteraku dilahirkan sebelum aku diangkat sebagai khalifah. Ia diasuh dan diajarkan adab dan sopan santun dengan sangat baik. Ia telah mempelajari al Quran dan ilmu-ilmu agama lainnya.

Tetapi ketika aku diangkat menjadi khalifah, ia meninggalkanku dan pergi. Kebesaran duniawiku tidak memberikan kesenangan dalam hidupnya. Dan ia tidak ingin memanfaatkannya sedikitpun. Ketika ia akan pergi, aku meminta ibunya agar memberinya sebuah cincin mutiara yang indah. Namun ia menolak memakainya dan mengirimnya kembali sebelum ia wafat. Anak itu sangat patuh kepada ibunya." (Raudh)

Harun Ar Rasyid rah.a, -yang puteranya tidak menyukai dunia- terkenal sebagai khalifah yang sangat shaleh dan budiman. Biasanya, jika seseorang memilki kekuasaan dan harta kekayaan, suka tergelincir dalam perbuatan-perbuatan buruk, tetapi sejarah membuktikan bahwa ia banyak terjun dalam hal agama.

Selama masa kekhalifahannya, ia shalat nafil seratus rakaat setiap hari hingga wafatnya. Ia suka bersedekah dari saku pribadinya seribu dirham setiap hari. Ia juga memimpin pasukan jihad dan beribadah haji dua tahun sekali.

Apabila beribadah haji, ia membawa seratus alim ulama dan putera mereka bersamanya. Dan pada tahun-tahun ia berjihad, ia akan mengirim tiga ratus orang rakyatnya untuk pergi haji. Ia menanggung biaya-biaya perjalanan, makanan dan pakaian mereka. Ia memberikan pelayanan dan pakaian yang terbaik untuk mereka. Ia pun biasa memberi hadiah kepada siapapun yang meminta pertolongannya, dan menolong siapapun atas kehendaknya tanpa diminta. Ia sangat mencintai alim ulama, yang mendapat penghormatan tersendiri di istananya.

Suatu ketika, muhaddits terkenal Abu Muawiyah ad Dharir (bermakna yang buta) makan bersama Harun Ar Rasyid. Setelah makan, ketika ulama buta itu berdiri untuk mencuci tangannya, khalifah langsung mengucurkan air ke atas tangannya., dan berkata bahwa ia melakukan itu karena penghormatannya kepada ilmunya.

Abu Muawiyah ad Dharir rah.a. berkata, "Suatu ketika, pada saat aku menceritakan kepadanya tentang hadits Rasulullah Saw. tentang perdebatan antara Adam a.s. dan Musa a.s. ada seseorang laki-laki yang duduk di dekatnya berkata, "Di mana mereka telah bertemu?"

Mendengar hal ini, Harun Ar Rasyid langsung berseru marah, "Mana pedangku? Biar kupenggal leher orang zindiq ini. Ia berani membantah hadits Rasulullah Saw.?"

Dan Harun Ar Rasyid sering menangis keras bila ada nasehat yang ditujukan kepadanya. (Sejarah Baghdad- Al Khatib).

Wallahu a’lam bish-shawab ...
Barakallahufikum ....

Salam Terkasih ..
Dari Sahabat Untuk Sahabat ...

... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...